Cara Mengatur Keuangan dengan Gaji Harian atau Penghasilan Tidak Tetap

Tim Artos · · 7 menit baca

Hari ini dapat Rp250.000, besok cuma Rp90.000, lusa hujan seharian dan hampir tidak ada pemasukan. Bagi driver ojol, pedagang, buruh harian, dan freelancer, penghasilan seperti ini adalah hal biasa. Masalahnya, kontrakan, listrik, dan uang sekolah anak tetap datang dengan jumlah yang sama. Panduan cara mengatur keuangan gaji harian ini memakai satu ide utama: ubah penghasilan yang naik turun menjadi "gaji" tetap untuk diri sendiri.

Kenapa penghasilan tidak tetap lebih sulit diatur

Karyawan bergaji bulanan tahu persis berapa uang yang akan masuk dan kapan. Anggarannya tinggal dibagi. Pekerja dengan penghasilan harian menghadapi tiga jebakan yang berbeda:

Keempat langkah di bawah menjawab ketiganya. Prinsip dasarnya sama dengan cara mengatur keuangan pribadi pada umumnya; yang berbeda adalah cara meratakan penghasilan.

Langkah 1: tentukan "gaji" untuk diri sendiri

Jangan menganggarkan dari rata-rata penghasilan, apalagi dari bulan terbaik. Pakai angka yang aman, yaitu rata-rata dari bulan-bulan terendah. Caranya: lihat penghasilan bersih 6 bulan terakhir (setelah dikurangi biaya kerja seperti bensin dan modal), ambil 3 yang paling kecil, lalu hitung rata-ratanya.

Misalkan penghasilan bersih Pak Dedi, driver ojol, selama 6 bulan terakhir seperti ini:

BulanPenghasilan bersihTermasuk 3 terendah?
Bulan 1Rp4.200.000
Bulan 2Rp3.600.000Ya
Bulan 3Rp4.800.000
Bulan 4Rp3.300.000Ya
Bulan 5Rp4.500.000
Bulan 6Rp3.900.000Ya
Rata-rata 6 bulanRp4.050.000

Gaji diri sendiri = rata-rata 3 bulan terendah

(Rp3.300.000 + Rp3.600.000 + Rp3.900.000) ÷ 3 = Rp3.600.000 per bulan, atau Rp120.000 per hari (Rp3.600.000 ÷ 30), atau Rp840.000 per minggu.

Rata-rata Pak Dedi sebenarnya Rp4.050.000. Selisih sekitar Rp450.000 per bulan itulah yang, dalam bulan biasa, masuk ke dana penyangga. Jika data Anda baru 3 bulan, pakai bulan terendahnya saja. Jika belum ada data sama sekali, mulailah mencatat keuangan harian sekarang dan pakai perkiraan yang hati-hati sementara itu.

Langkah 2: pisahkan uang usaha dan uang pribadi

Gaji diri sendiri hanya berjalan jika ada "kantor" yang membayarnya. Kantor itu adalah rekening atau dompet penampung. Susunannya:

DompetIsinyaAturannya
Usaha/penampungSemua penghasilan masuk ke siniBiaya kerja (bensin, modal, pulsa kerja) dibayar dari sini
Pribadi"Gaji" harian atau mingguanUntuk makan, kebutuhan rumah, jajan; tidak boleh menarik dari usaha di luar jadwal
TagihanSisihan harian untuk tagihanHanya dipakai saat tagihan jatuh tempo
PenyanggaKelebihan di hari dan bulan ramaiMenambal gaji saat penghasilan sepi

Dompet ini tidak harus empat rekening bank. Bisa satu rekening untuk penampung, satu e-wallet untuk pribadi, dan dua amplop atau rekening tabungan untuk tagihan dan penyangga. Yang penting, setiap dompet punya satu tugas. Cara memakai amplop secara disiplin dibahas di menabung metode amplop.

Langkah 3: siapkan dana penyangga untuk hari sepi

Dana penyangga adalah bantalan yang membuat gaji Anda tetap dibayar walaupun penghasilan hari itu kurang. Di hari ramai, kelebihan di atas gaji masuk ke penyangga. Di hari sepi, kekurangannya diambil dari sana.

Patokan awal yang masuk akal: satu bulan gaji, misalnya Rp3.600.000 untuk Pak Dedi. Selama penyangga belum terkumpul, jangan menaikkan gaji walaupun beberapa minggu terasa ramai.

Dana penyangga berbeda dengan dana darurat. Penyangga dipakai rutin untuk meratakan penghasilan; dana darurat untuk kejadian besar seperti sakit atau kendaraan rusak berat. Setelah penyangga penuh, kelebihan berikutnya bisa dialihkan ke dana darurat, yang biasanya disarankan lebih besar untuk penghasilan tidak tetap.

Bagaimana jika penyangga terus berkurang?

Satu atau dua minggu sepi itu wajar. Tetapi jika penyangga turun terus selama sebulan, artinya gaji Anda lebih besar daripada kemampuan penghasilan saat ini. Jangan menutupnya dengan utang. Turunkan gaji sementara, misalnya ke angka bulan terendah, kurangi pos yang bisa ditunda, dan hitung ulang setelah penghasilan kembali normal. Lebih baik hidup sedikit lebih hemat selama beberapa minggu daripada membayar cicilan berbulan-bulan.

Langkah 4: sisihkan setiap hari untuk tagihan

Tagihan bulanan terasa berat karena dibayar sekaligus. Pecah menjadi sisihan harian, lalu pindahkan ke dompet tagihan setiap hari atau setiap minggu. Misalkan tagihan bulanan Pak Dedi:

TagihanPer bulan
KontrakanRp900.000
Listrik dan airRp210.000
Uang sekolah anakRp300.000
Total (÷ 30 = Rp47.000 per hari)Rp1.410.000

Dari gaji Rp120.000 per hari, Rp47.000 langsung masuk dompet tagihan. Sisanya, Rp73.000 per hari atau Rp2.190.000 sebulan, untuk makan dan kebutuhan rumah. Jumlahnya pas: Rp1.410.000 + Rp2.190.000 = Rp3.600.000. Untuk membagi sisa gaji ke pos-pos kebutuhan, pakai cara yang sama dengan mengatur gaji bulanan, termasuk trik jatah harian.

Contoh cara mengatur keuangan driver ojol

Begini tiga hari kerja Pak Dedi dengan sistem di atas. Gaji Rp120.000 tetap dibayar setiap hari, apa pun hasilnya:

HariPendapatanBensinBersihGaji ke pribadiKe/dari penyangga
Senin (ramai)Rp210.000Rp35.000Rp175.000Rp120.000+Rp55.000
Selasa (hujan)Rp130.000Rp30.000Rp100.000Rp120.000−Rp20.000
Rabu (ramai)Rp260.000Rp40.000Rp220.000Rp120.000+Rp100.000
TotalRp600.000Rp105.000Rp495.000Rp360.000+Rp135.000

Di hari Selasa, Pak Dedi tidak perlu berutang atau mengurangi uang makan keluarga, karena kekurangan Rp20.000 ditutup dari penyangga. Di hari Senin dan Rabu, kelebihannya tidak "menguap" untuk jajan, tetapi menambah penyangga. Bensin dibayar dari dompet usaha, bukan dari gaji.

Contoh untuk pedagang pasar dan freelancer

Untuk pedagang, jebakan terbesarnya adalah memakan modal. Misalkan Bu Sari berjualan sayur. Laba bersih bulanannya selama 6 bulan: Rp7.200.000, Rp6.300.000, Rp8.100.000, Rp5.700.000, Rp6.900.000, dan Rp6.000.000. Tiga terendah (Rp5.700.000, Rp6.000.000, Rp6.300.000) rata-ratanya Rp6.000.000, jadi gajinya Rp200.000 per hari atau Rp1.400.000 per minggu. Hitungan satu minggu yang ramai:

Satu mingguJumlah
Penjualan 7 hariRp9.800.000
Belanja dagangan (modal)−Rp7.350.000
Sewa lapak, plastik, transportasi−Rp560.000
Laba bersihRp1.890.000
Gaji Bu Sari (7 × Rp200.000)−Rp1.400.000
Masuk penyanggaRp490.000

Uang modal Rp7.350.000 tetap di dompet usaha untuk belanja minggu berikutnya. Bu Sari hanya mengambil gajinya, dan sisa laba menjadi penyangga untuk minggu yang sepi.

Untuk freelancer, polanya sama tetapi uang masuk lebih jarang dan lebih besar. Misalnya satu proyek dibayar sekaligus di awal bulan, lalu tidak ada pemasukan tiga minggu. Masukkan seluruh pembayaran ke rekening penampung, sisihkan dulu biaya kerja (alat, langganan software, internet), lalu bayar gaji Anda setiap minggu atau setiap bulan dengan jumlah tetap.

Mengatur keuangan gaji harian di Artos

Artos Money Manager bisa dipakai offline dan tanpa akun, jadi cocok dicatat di sela-sela kerja. Susunan di atas bisa dibuat seperti ini:

  1. Buat empat dompet di Pengaturan › Dompet: Usaha, Pribadi, Tagihan, dan Penyangga, masing-masing dengan saldo saat ini.
  2. Catat pendapatan harian ke dompet Usaha dari tab Harian, dan biaya kerja seperti bensin atau modal sebagai pengeluaran dengan kategori sendiri.
  3. Bayar gaji dengan transfer dari Usaha ke Pribadi. Pilih Ulangi › Setiap hari atau Setiap minggu agar tercatat otomatis. Transfer tidak dihitung sebagai pemasukan atau pengeluaran, jadi laporan tetap jujur.
  4. Sisihkan tagihan dengan transfer berulang dari Pribadi ke Tagihan, dan kelebihan hari ramai dengan transfer ke Penyangga.
  5. Pantau di tab Laporan: laporan harian untuk melihat hari ramai dan sepi, laporan bulanan untuk menghitung ulang gaji Anda setiap 3 bulan.
  6. Pasang anggaran untuk makan dan kebutuhan rumah di Pengaturan › Anggaran bulanan › Tambah anggaran, agar terlihat sisa dan jatah per harinya.
Daftar dompet di aplikasi Artos beserta saldo masing-masing
Dompet di Artos: setiap dompet punya saldo sendiri, cocok untuk memisahkan uang usaha dan pribadi.

Ringkasnya: hitung gaji diri sendiri dari rata-rata 3 bulan terendah, tampung semua penghasilan di dompet usaha, bayar gaji ke dompet pribadi dengan jumlah tetap, sisihkan tagihan setiap hari, dan simpan kelebihan hari ramai sebagai dana penyangga sampai mencapai satu bulan gaji. Hitung ulang gaji setiap 3 bulan dari catatan yang sebenarnya.

Pertanyaan yang sering diajukan

Bagaimana cara mengatur keuangan dengan penghasilan tidak tetap?

Tentukan "gaji" tetap untuk diri sendiri dari rata-rata bulan-bulan terendah, tampung semua penghasilan di satu rekening terpisah, lalu pindahkan gaji itu ke rekening pribadi secara rutin. Kelebihan di bulan ramai disimpan sebagai dana penyangga untuk menutup bulan sepi.

Berapa dana penyangga yang ideal untuk pekerja harian?

Sebagai patokan awal, kumpulkan dana penyangga sebesar satu bulan "gaji" Anda. Setelah itu tercapai, lanjutkan membangun dana darurat terpisah. Banyak perencana keuangan menyarankan dana darurat yang lebih besar bagi yang penghasilannya tidak tetap dibanding karyawan bergaji tetap.

Apakah uang modal dagang boleh dipakai untuk kebutuhan sehari-hari?

Sebaiknya tidak. Uang modal untuk belanja dagangan besok harus kembali utuh. Jika modal terpakai untuk kebutuhan rumah, besok belanja dagangan berkurang, penjualan turun, dan masalahnya berulang. Ambil uang pribadi hanya dari laba, dalam jumlah gaji yang sudah ditetapkan.

Bagaimana jika belum punya catatan penghasilan beberapa bulan terakhir?

Mulailah mencatat sekarang dan pakai perkiraan yang hati-hati sementara itu, misalnya penghasilan di minggu yang sepi dikali empat. Setelah tiga bulan tercatat, hitung ulang gaji Anda dari data yang sebenarnya.